Teori Kepemimpinan Manajemen
A.
Modern
Choice Approach to Participation (Vroom & Yetton)
Menurut teori ini gaya kepemimpinan
yang tepat ditentukan oleh corak persoalan yang dihadapi oleh macam keputusan
yang harus diambil. Model teori ini dapat digunakan untuk:
• Membantu mengenali berbagai jenis
situasi pemecahan persoalan secara berkelompok (group problem solving
situation).
• Menyarankan gaya kepemimpinan mana
yang dianggap layak untuk setiap situasi. Ada tiga perangkat parameter yang
penting yaitu klasifikasi gaya kepemimpinan, kriteria efektifitas keputusan,
kriteria penemukenalan jenis pemecahan persoalan.
Misalnya seorang dokter yang mengambil keputusan untuk melakukan operasi terhadap pasien yang mengalami kecelakaan tanpa dia harus berkonsultasi terlebih dahulu terhadap staf-stafnya dengan menggunakan informasi yang pada waktu itu diketahuinya.
Misalnya seorang dokter yang mengambil keputusan untuk melakukan operasi terhadap pasien yang mengalami kecelakaan tanpa dia harus berkonsultasi terlebih dahulu terhadap staf-stafnya dengan menggunakan informasi yang pada waktu itu diketahuinya.
Dari
sini dapat dilihat bahwa gaya pengambilan keputusan yang diambil oleh dokter
tersebut merupakan gaya pengambilan keputusan A-1 yang dilakukan oleh seorang
pemimpin yang dimana dia mengambil keputusannya sendiri dalam memecahkan
persoalan dengan menggunakan informasi yang pada waktu itu diketahuinya.
B.
Teori
Kepemimpinan Contingensi of Leadhership (Fiedler)
Model ini menyatakan bahwa keefektifan
suatu kelompok bergantung pada:
• Hubungan dan interaksi pemimpin dan bawahannya
• Sejauh mana pemimpin mengendalikan dan mempengaruhi suatu situasi.
Dalam hal yang pertama dapat dinilai dengan kuisoner LPC (Least Prepered Coworker)
• Jika skor LPC tinggi, maka pemimpin berorientasi pada hubungan
• Jika skor LPC rendah, maka pemimpin berorientasi pada tugas.
• Hubungan dan interaksi pemimpin dan bawahannya
• Sejauh mana pemimpin mengendalikan dan mempengaruhi suatu situasi.
Dalam hal yang pertama dapat dinilai dengan kuisoner LPC (Least Prepered Coworker)
• Jika skor LPC tinggi, maka pemimpin berorientasi pada hubungan
• Jika skor LPC rendah, maka pemimpin berorientasi pada tugas.
Misalnya didalam lingkungan
bermasyarakat ketua RT setiap minggunya mengajak masyarakatnya untuk melakukan
kerja bakti membersihkan lingkungan sekitar. Dimana kerja bakti tersebut
diadakan agar mempererat hubungan antara ketua RT dengan warganya dan warga
dengan sesama warga yang lain. Dalam kerja bakti tersebut ketua Rt membimbing
warganya untuk sama-sama bekerjasama dan dari kegiatan tersebut dapat diperoleh
suatu manfaat agar ketua RT dapat mengenal warga lebih jauh dan menumbuhkan
rasa kepedulian terhadap sesama.Tujuan ketua RT bukan hanya untuk menjadikan
kampungnya bersih,tetapi lebih kepada mempererat hubungan interpersonal
diantara mereka.
Dari sini dapat dilihat bahwa ketua RT tersebut memilik skor LPC yang tinggi. Karena dia lebih berfokus pada hubungan dengan warganya.
Dari sini dapat dilihat bahwa ketua RT tersebut memilik skor LPC yang tinggi. Karena dia lebih berfokus pada hubungan dengan warganya.
C.
PATH
GOAL THEORY
Model path-goal menganjurkan bahwa
kepemimpinan terdiri dari dua fungsi dasar:
• Fungsi pertama; member kejelasan
alur.
• Fungsi kedua; adalah meningkatkan
jumlah hasil (reward) bawahannya.
Misalnya didarerah kalideres ada yang mengadakan arisan peket sembako, dimana ketua arisan paket sembako setiap tiga bulan sekali mengadakan rapat dengan para kordinator untuk meningkatkan kinerja kordinator. Didalam rapat tersebut para kordinator memberikan saran untuk memperbaiki hasil dari isi paket sembako tersebut, mengadakan hiburan setiap dua bulan sekali,dan ketua arisannya juga berkonsultasi kepada mereka dalam pengelolahan keuangan dari arisan tersebut.
Diatas merupakan contoh dari kepemimpinan partisipatif (participative leadership), dimana pemimpinnya berkonsultasi dengan bawahan dan mengambil saran-saran dan ide mereka. Kepemimpinan partisipatif dapat meningkatkan motivasi kerja bawahan.
Misalnya didarerah kalideres ada yang mengadakan arisan peket sembako, dimana ketua arisan paket sembako setiap tiga bulan sekali mengadakan rapat dengan para kordinator untuk meningkatkan kinerja kordinator. Didalam rapat tersebut para kordinator memberikan saran untuk memperbaiki hasil dari isi paket sembako tersebut, mengadakan hiburan setiap dua bulan sekali,dan ketua arisannya juga berkonsultasi kepada mereka dalam pengelolahan keuangan dari arisan tersebut.
Diatas merupakan contoh dari kepemimpinan partisipatif (participative leadership), dimana pemimpinnya berkonsultasi dengan bawahan dan mengambil saran-saran dan ide mereka. Kepemimpinan partisipatif dapat meningkatkan motivasi kerja bawahan.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.pdf-search-engine.com
Deviton JA., 1995 The Interpersonal Communication Book, 7th Ed., Hunter College of The City University of New York.
Greenberg J. & Baron RA., 1996 Behavior in Organizations: Understanding & Managing The Human Side of Work, Prentice Hall International Inc., p: 283 – 322.
Deviton JA., 1995 The Interpersonal Communication Book, 7th Ed., Hunter College of The City University of New York.
Greenberg J. & Baron RA., 1996 Behavior in Organizations: Understanding & Managing The Human Side of Work, Prentice Hall International Inc., p: 283 – 322.
Muchlas M., 1998 Perilaku Organisasi,
dengan Studi kasus Perumahsakitan, Program Pendidikan Pasca Sarjana Magister
Manajemen Rumahsakit, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Nortcraft GB and Neale MA., 1990
Organizational Behavior: A Management Challenge, The Dryden Press, Rinehart
& Winston Inc.
http://www.scribd.com/doc/4994224/pengertian-manajemen