SEJARAH KESEHATAN MENTAL
Sejarah
kesehatan mental tidaklah sejelas sejarah ilmu kedokteran. Ini terutama karena
masalah mental bukan merupakan masalah fisik yang dengan mudah dapat diamati
dan terlihat. Berbeda dengan gangguan fisik yang dapat dengan relatif mudah
dideteksi, orang yang mengalami gangguan kesehatan mental sering kali tidak
terdeteksi. Sekalipun oleh anggota keluarganya sendiri. Hal ini lebih karena
mereka sehari-hari hidup bersama sehingga tingkah laku yang mengindikasikan
gangguan mental dianggap hal yang biasa, bukan sebagai gangguan.
Khusus untuk
masyarakat I ndonesia, masalah kesehatan mental saat ini belum begitu mendapat
perhatian yang serius. Krisis yang saat ini melanda membuat perhatian terhadap
kesehatan mental kurang terpikirkan. Orang masih fokus pada masalah kuratif,
kurang memperhatikan hal-hal preventif untuk menjaga mental supaya tetap sehat.
Tingkat pendidikan yang beragam dan terbatasnya pengetahuan mengenai perilaku
manusia turut membawa dampak kurangnya
kepekaan masyarakat terhadap anggotanya yang mestinya mendapatkan pertolongan
di bidang kesehatan mental. Faktor budaya pun seringkali membuat masyarakat
memiliki pandangan yang beragam mengenai penderita gangguan mental. Oleh sebab
itu, berikut dipaparkan sejarah mengenai perkembangan kesehatan mental,
terutama di Amerika dan Eropa, dan semoga paparan ini menjadi referensi
berbagai pandangan mengenai kesehatan mental yang saat ini ada di Indonesia.
DAFTAR
PUSTAKA
v Siswanto. 2007. Kesehatan
Mental “ Konsep, Cakupan dan Perkembangan”. Yogyakarta. Penerbit Andi
KONSEP SEHAT
Sehat
merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas daripenyakit akan tetapi
juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang meliputi aspek fisik, emosi,
sosial dan spiritual. Menurut WHO (1947)Definisi Sehat Dalam Keperawatan Sehat
: Perwujudan individu yang diperoleh melalui kepuasan dalam berhubungan dengan
orang lain (Aktualisasi). Perilaku yang sesuai dengan tujuan, perawatan
diri yang kompeten sedangkan penyesesuaian diperlukan untuk mempertahankan
stabilitas dan integritas struktural. (Pender (1982))Sehat : Fungsi efektif
dari sumber-sumber perawatan diri (self care Resouces)yang menjamin tindakan
untuk perawatan diri ( self care Aktions) secara adekual.Self care Resoureces :
mencangkup pengetahuan, keterampilan dan sikap. Self care Aktions : Perilaku
yang sesuai dengan tujuan diperlukan untuk memperoleh, mempertahan kan dan
menigkatkan fungsi psicososial da piritual.(Paune (1983) Kesehatan menyatakan
bahwa: Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan hidup produktif secara sosialdan ekonomi (UU No.23,1992)
CIRI-CIRI
SEHAT
Kesehatan
fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak
adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ
tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.Kesehatan mental (jiwa)
mencakup 3 komponen, yakni pikiran,emosional, dan spiritual.
1.Pikiran
sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.
2.Emosional
sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya,
misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan sebagainya.
3.Spiritual
sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasasyukur, pujian,
kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fanaini, yakni Tuhan
Yang Maha Kuasa. Misalnya sehat spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan
seseorang.
4.Kesehatan
sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau
kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku,agama atau kepercayan,
status sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan
menghargai.
5.Kesehatan
dari aspek ekonomi terlihat bila seseorang (dewasa) produktif,dalam arti
mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong terhadap
hidupnya sendiri atau keluarganya secara finansial. Bagimereka yang belum
dewasa (siswa atau mahasiswa) dan usia lanjut (pensiunan), dengan
sendirinya batasan ini tidak berlaku. Oleh sebab itu, bagikelompok tersebut,
yang berlaku adalah produktif secara sosial, yakni mempunyai kegiatan yang
berguna bagi kehidupan mereka nanti, misalnya berprestasi bagi siswa atau
mahasiswa, dan kegiatan sosial, keagamaan, atau pelayanan kemasyarakatan
lainnya bagi usia lanjut. Aspek-aspek pendukung kesehatan
Banyak orang
berpikir bahwa sehat adalah tidak sakit, maksudnya apabila tidak ada gejala
penyakit yang terasa berarti tubuh kita sehat. Padahal pendapat itu kurang
tepat. Ada kalanya penyakit baru terasa setelah cukup parah, seperti kanker yg
baru diketahui setelah stadium 4. Apakah berarti sebelumnya penyakit
kanker itu tidak ada? Tentu saja ada, tetapi tidak terasa. Berarti tidak adanya
gejala penyakit bukan berarti sehat.Sesungguhnya sehat adalah suatu kondisi
keseimbangan, di mana seluruh sistem organ di tubuh kita bekerja dengan
selaras. Faktor-faktor yang mempengaruhi keselarasan tersebut berlangsung
seterusnya adalah:
1.Nutrisi
yang lengkap dan seimbang
2.Istirahat
yang cukup
3.Olah Raga
yang teratur
4.Kondisi
mental, sosial dan rohani yang seimbang
5.Lingkungan
yang bersih
Apabila
salah satu saja dari kelima faktor ini tidak tercukupi, akan membuat
keseimbangan kinerja organ tubuh terganggu. Sesungguhnya tubuh memiliki
mekanisme otomatis untuk mengembalikan keseimbangan kesehatannya , akan tetapi
apabila hal ini berlangsung terus-menerus atau kekurangan tersebut dalam jumlah
yg cukup besar, maka tubuh tidak mampu mengembalikan keseimbangan, dan hal
inilah yg kita sebut sakit.Istimewanya tubuh manusia, walaupun dalam
kondisi sakit tubuh tersebut tetap dapat memulihkan dirinya sendiri. Untuk
itu perlu dibantu dengan memberikan nutrisi dalam jumlah yang memadai secara
lengkap ditambah dengan istirahat yang cukup. Dalam keadaan ini obat bukanlah
faktor utama pemulihan, karena ada sebagian orang yg dapat pulih dari sakit
tanpa bantuan obat, seperti misalnya penderita flu dan pilek. Obat dapat
digunakan untuk membantu mengurangi gejala, tetapi penggunaannya tidak
boleh berlebihan dan harus sesuai dengan petunjuk dokter.
Perbedaan Konsep Kesehatan mental
pada budaya barat dan timur
Definisi diberikan kepada masing-masing budaya, namun
kebanyakan melihat kebudayaan sebagai seperangkat pedoman yang memandu
bagaimana mereka memandang dunia, merespon secara emosional, dan berperilaku di
dalamnya atau pedoman untuk hidup. Pemahaman terhadap sesuatu adalah suatu hal
yang cukup kuat mendapat pengaruh budaya, sudut pandang terhadap suatu
permasalahan seringkali dipengaruhi oleh budaya yang melatar belakangi, baik
dalam proses memahami masalah atau pun dalam menyelesaikan masalah. Banyak hal
dalam kehidupan yang dipengaruhi oleh budaya, kesehatan mental dan gerakan
kesehatan mental juga dipengatuhi oleh budaya.
Dalam kesehatan mental, faktor kebudayaan juga memegang peran penting. Apakah seseorang itu dikatakan sehat atau sakit mental bergantung pada kebudayaannya (Marsella dan White, 1984). Hubungan kebudayaan dengan kesehatan mental dikemukakan oleh (Wallace, 1963) meliputi :
•Kebudayaan yang mendukung dan menghambat kesehatan mental.
•Kebudayaan memberi peran tertentu terhadap penderita gangguan mental.
•Berbagai bentuk gangguan mental karena faktor kultural, dan
•Upaya peningkatan dan pencegahan gannguan mental dalam telaah budaya.
Selain itu budaya juga mempengaruhi tindakan penanganan yang dilakukan terhadap gangguan mental itu sendiri. Dengan kata lain Konsep kesehatan mental pada suatu budaya tertentu harus dipahami dari hal-hal yang dianggap mempunyai arti dan bermakna pada suatu budaya tertentu, sehingga harus dipahami dari nilai-nilai dan falsafah suatu budaya tertentu.
Ada perbedaan konsep kesehatan mental budaya barat dan timur Barat lebih memandang kesehatan bersifat dualistik yaitu mengibaratkan manusia sebagai mesin yang sangat dipengaruhi oleh dominasi medis. Sedangkan Timur lebih bersifat holistik, yaitu melihat sehat lebih secara menyeluruh saling berkaitan sehingga berpengaruh pada cara penanganan terhadap penyakit.
Model-model Kesehatan Barat dan Timur
Model-model kesehatan muncul karena banyaknya asumsi mengenai kesehatan, seperti halnya model kesehatan dari Barat dan juga Timur. Akan tetapi, dalam model-model itu terdapat variasi yang disebabkan karena adanya perbedaan budaya di antara model-model tersebut.
•Model Biomedis (Freund, 1991) memiliki 5 asumsi. Pertama, terdapat perbedaan yang nyata antara tubuh dan jiwa sehingga penyakit diyakini berada pada suatu bagian tubuh tertentu. Kedua, penyakit dapat direduksi pada gangguan fungsi tubuh, baik secara biokimia atau neurofisiologis. Ketiga, setiap penyakit disebabkan oleh suatu agen khusus yang berpotensi dapat diidentifikasi. Keempat, melihat tubuh sebagai suatu mesin. Kelima, konsep tubuh adalah objel yang perlu diatur dan dikontrol.
•Model Psikiatris, merupakan model yang berkaitan dengan model biomedis. Model ini masih mendasarkan diri pada pencarian bukti-bukti fisik dari suatu oenyakit dan penggunaan treatmen fisik obat-obatan atau pembedahan untuk mengoreksi abnormalitas.
•Model Psikosomatis (Tamm, 1993), merupakan model yang muncul karena adanya ketidakpuasan terhadap model biomedis. Model ini menyatakan bahwa tidak ada penyakit somatik yang tanpa disebabkan oleh antesenden emosional dan atau sosial. Sebaliknya tidak ada penyakit psikis yang tidak disertai oleh simtom-simtom somatik.
Dalam kesehatan mental, faktor kebudayaan juga memegang peran penting. Apakah seseorang itu dikatakan sehat atau sakit mental bergantung pada kebudayaannya (Marsella dan White, 1984). Hubungan kebudayaan dengan kesehatan mental dikemukakan oleh (Wallace, 1963) meliputi :
•Kebudayaan yang mendukung dan menghambat kesehatan mental.
•Kebudayaan memberi peran tertentu terhadap penderita gangguan mental.
•Berbagai bentuk gangguan mental karena faktor kultural, dan
•Upaya peningkatan dan pencegahan gannguan mental dalam telaah budaya.
Selain itu budaya juga mempengaruhi tindakan penanganan yang dilakukan terhadap gangguan mental itu sendiri. Dengan kata lain Konsep kesehatan mental pada suatu budaya tertentu harus dipahami dari hal-hal yang dianggap mempunyai arti dan bermakna pada suatu budaya tertentu, sehingga harus dipahami dari nilai-nilai dan falsafah suatu budaya tertentu.
Ada perbedaan konsep kesehatan mental budaya barat dan timur Barat lebih memandang kesehatan bersifat dualistik yaitu mengibaratkan manusia sebagai mesin yang sangat dipengaruhi oleh dominasi medis. Sedangkan Timur lebih bersifat holistik, yaitu melihat sehat lebih secara menyeluruh saling berkaitan sehingga berpengaruh pada cara penanganan terhadap penyakit.
Model-model Kesehatan Barat dan Timur
Model-model kesehatan muncul karena banyaknya asumsi mengenai kesehatan, seperti halnya model kesehatan dari Barat dan juga Timur. Akan tetapi, dalam model-model itu terdapat variasi yang disebabkan karena adanya perbedaan budaya di antara model-model tersebut.
•Model Biomedis (Freund, 1991) memiliki 5 asumsi. Pertama, terdapat perbedaan yang nyata antara tubuh dan jiwa sehingga penyakit diyakini berada pada suatu bagian tubuh tertentu. Kedua, penyakit dapat direduksi pada gangguan fungsi tubuh, baik secara biokimia atau neurofisiologis. Ketiga, setiap penyakit disebabkan oleh suatu agen khusus yang berpotensi dapat diidentifikasi. Keempat, melihat tubuh sebagai suatu mesin. Kelima, konsep tubuh adalah objel yang perlu diatur dan dikontrol.
•Model Psikiatris, merupakan model yang berkaitan dengan model biomedis. Model ini masih mendasarkan diri pada pencarian bukti-bukti fisik dari suatu oenyakit dan penggunaan treatmen fisik obat-obatan atau pembedahan untuk mengoreksi abnormalitas.
•Model Psikosomatis (Tamm, 1993), merupakan model yang muncul karena adanya ketidakpuasan terhadap model biomedis. Model ini menyatakan bahwa tidak ada penyakit somatik yang tanpa disebabkan oleh antesenden emosional dan atau sosial. Sebaliknya tidak ada penyakit psikis yang tidak disertai oleh simtom-simtom somatik.
Semiun, yustinus. (2006). Kesehatan Mental 1. Yogyakarta:
Kanisius
Materi KONSEP SEHAT (Pola Aktifitas Sehat / Olahraga) oleh dr adibah
Materi KONSEP SEHAT (Pola Aktifitas Sehat / Olahraga) oleh dr adibah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar